Pegunungan Bintang, Papua – Sebuah ladang ganja dengan luas mencengangkan, mencapai 5.000 meter persegi, ditemukan di wilayah terpencil Pegunungan Bintang, Papua. Penemuan ini mengundang banyak pertanyaan: siapa pemiliknya, dan bagaimana ladang sebesar itu bisa beroperasi tanpa terdeteksi?
Ladang ini ditemukan oleh personel TNI saat melakukan patroli pengamanan di daerah tersebut. Di tengah medan yang sulit dan tertutup rimbunnya hutan, mereka mendapati area luas yang ditumbuhi tanaman ganja siap panen. “Kami menemukan ladang ganja seluas kurang lebih 5.000 meter persegi di wilayah Pegunungan Bintang,” ujar seorang perwira TNI yang terlibat dalam operasi tersebut.
Pegunungan Bintang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan akses terbatas dan kondisi geografis yang ekstrem. Letaknya yang jauh dari pusat pemantauan sering dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menjalankan aktivitas ilegal, termasuk peredaran narkotika. Dugaan pun mengarah pada kelompok kriminal bersenjata (KKB), yang diduga memanfaatkan ladang ganja ini sebagai sumber pendanaan mereka.
Tak ingin ladang ini terus beroperasi, TNI segera mengambil langkah tegas dengan memusnahkan tanaman ganja yang ditemukan. “Kami terus melakukan patroli untuk memastikan tidak ada lagi aktivitas ilegal yang berlangsung di wilayah ini,” tambah perwira tersebut.
Meski ladang ganja telah dihancurkan, misteri mengenai siapa pemilik sebenarnya masih menjadi tanda tanya besar. Jaringan narkotika di Papua bukanlah hal baru, dan sering kali beroperasi secara tersembunyi dengan melibatkan berbagai pihak. Hingga kini, aparat keamanan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap siapa yang berada di balik perkebunan ini.
Penemuan ini kembali menyoroti tantangan besar dalam pemberantasan peredaran narkotika di wilayah Papua. Dengan luasnya wilayah dan sulitnya medan, pengawasan menjadi tugas berat bagi aparat keamanan. Namun, upaya untuk menutup celah bagi bisnis ilegal ini terus dilakukan.
Ladang ganja di Pegunungan Bintang mungkin telah dimusnahkan, tetapi pertanyaan besarnya tetap menggantung: siapa yang sebenarnya mengendalikan operasi ini, dan apakah ada ladang-ladang lain yang masih tersembunyi?